Babak baru industri telko Indonesia, Telkomsel dalam tekanan pesaing
Telkomsel sebagai pemimpin pasar, dibayangi Indosat di posisi kedua, dan XLSmart sebagai penantang baru.

Tiga tahun terakhir, peta industri telekomunikasi Indonesia berubah drastis. Jika dulu Telkomsel seolah raja tak tergoyahkan di singgasana telko Nusantara, kini dua rivalnya “bersekutu” dan menata ulang kekuatan. Tahun 2022 ditandai dengan lahirnya Indosat Ooredoo Hutchison – hasil merger Indosat Ooredoo dan Hutchison 3 Indonesia – yang langsung mengatrol jumlah pelanggan Indosat melewati 100 juta.
Tak berhenti di situ, akhir 2024, XL Axiata dan Smartfren mengumumkan merger raksasa senilai Rp104 triliun, membentuk entitas baru bernama XLSmart dengan 94,5 juta pelanggan (sekitar 27% pangsa pasar). Konsekuensinya? Tahun 2025, Indonesia memasuki era tiga besar operator: Telkomsel sebagai pemimpin pasar, dibayangi Indosat di posisi kedua, dan XLSmart sebagai penantang baru. Barangkali, industri akan “semakin sehat” dengan tiga pemain besar.
Telkomsel selama ini menikmati posisi puncak dengan 160 juta pelanggan pada 2024, hampir dua kali lipat basis pelanggan Indosat sesudah merger. Ibarat pemain bulutangkis unggulan, Telkomsel punya servis terkuat dan jangkauan terluas. Namun kini, lawan tandingnya makin tangguh. Indosat Ooredoo Hutchison pascamerger 2022 langsung tancap gas: menutup 2022 dengan 102 juta pelanggan (bandingkan dengan Telkomsel 173 juta). Indosat bahkan menggandakan jumlah BTS 4G-nya menjadi ~137 ribu, mendekati capaian Telkomsel.
Artinya, kesenjangan kualitas jaringan antara Telkomsel dan Indosat kian menipis – sebuah alarm bagi Telkomsel bahwa keunggulan infrastrukturnya bukan monopoli lagi. Sementara itu, XLSmart (penggabungan XL Axiata dan Smartfren) siap menjadi kuda hitam. Dengan 94,5 juta pelanggan gabungan, entitas baru ini otomatis menguasai lebih dari seperempat pasar seluler. Dampak sinergi finansialnya pun tidak kecil – diproyeksikan cost synergy Rp4–6 triliun per tahun. Bagi Telkomsel, ini berarti dua pesaingnya kini punya skala ekonomi lebih besar untuk perang tarif maupun ekspansi jaringan.
Tekanan kompetitif pun meningkat tajam. Jika sebelumnya Telkomsel cukup waspada pada Indosat yang agresif, kini harus menghadapi “dua front perang” sekaligus. Indosat dan XLSmart mungkin tidak bersekongkol, tapi masing-masing kian kuat menggempur segmen pasar Telkomsel, dari kota besar hingga pelosok. Apakah Telkomsel siap ketika dua rivalnya melontarkan paket data murah bertubi-tubi? Bagaimana jika Indosat makin agresif merebut pengguna muda dengan branding edgy, sementara XLSmart menyasar pengguna data berat dengan bundling menarik? Telkomsel mau tak mau harus keluar dari zona nyaman kejayaannya selama ini. Strategi Telkomsel pun perlu beradaptasi. Dulu, Telkomsel mengandalkan cakupan jaringan luas dan reputasi terpercaya untuk menarik pelanggan, meski harga relatif lebih mahal. Kini, dengan Indosat dan XL + Smartfren bisa menawarkan kualitas mendekati setara, Telkomsel harus menemukan pembeda baru. Mungkin layanan digital content, mungkin loyalty program yang lebih royal, atau customer service yang unggul. Tantangan kompetitif ini menuntut Telkomsel bermain lebih cerdik – layaknya pemain catur yang mulai kehilangan banyak bidak, Telkomsel harus memanfaatkan setiap keunggulan tersisa dengan optimal. Seperti kata pepatah, “kalau tak bisa menang di kekuatan, menangkan di strategi.”