AS ketar ketir lihat kecanggihan GPU Tiongkok
Laporan terbaru dari Gizmochina mengungkapkan bahwa GPU buatan Tiongkok mulai menunjukkan performa yang mengungguli produk Nvidia, raksasa teknologi AS.

Laporan terbaru dari Gizmochina mengungkapkan bahwa GPU buatan Tiongkok mulai menunjukkan performa yang mengungguli produk Nvidia, raksasa teknologi AS, dalam bidang komputasi super (supercomputing). Terobosan ini dinilai sebagai ancaman serius terhadap dominasi AS di sektor teknologi tinggi global, sekaligus menandai kemajuan pesat Tiongkok dalam pengembangan chip mandiri.
GPU Tiongkok, seperti seri DeepCompute dari perusahaan startup maupun desain dari raksasa seperti Huawei dan Biren, diklaim mampu menyaingi—bahkan melampaui—Nvidia dalam hal kecepatan pemrosesan dan efisiensi energi untuk aplikasi komputasi kinerja tinggi. Uji coba di pusat data superkomputer Tiongkok, seperti Tianhe-3, menunjukkan peningkatan hingga 20% dalam menjalankan simulasi AI kompleks dan analisis data skala besar. Teknologi ini didukung oleh arsitektur inovatif yang mengoptimalkan paralelisasi dan manajemen daya.
Kemajuan ini tidak lepas dari tekanan sanksi teknologi AS yang memblokir akses Tiongkok ke chip canggih buatan Nvidia dan perusahaan AS lainnya. Sejak 2022, pemerintah Tiongkok meningkatkan investasi besar-besaran dalam R&D semiconductor, dengan fokus pada kemandirian teknologi. Program seperti Made in Tiongkok 2025 dan dukungan dana negara untuk startup chip telah mempercepat inovasi lokal.
Dominasi Nvidia di pasar GPU global—yang sebelumnya menguasai lebih dari 80% pasar data center—kini mulai goyah. Perusahaan Tiongkok tidak hanya menawarkan produk kompetitif secara teknis, tetapi juga harga lebih rendah berkat subsidi pemerintah. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal kompatibilitas perangkat lunak dan ekosistem developer yang masih mengandalkan platform Nvidia seperti CUDA.
Keberhasilan GPU Tiongkok memperuncing persaingan AS-Tiongkok di bidang teknologi. AS khawatir kemajuan ini akan memperkuat kemampuan militer dan riset Tiongkok, sementara Tiongkok melihatnya sebagai langkah krusial untuk mengurangi ketergantungan pada Barat. Para analis memprediksi perang paten dan peraturan ekspor baru dari AS untuk memperlambat laju Tiongkok.
Meski masih perlu membuktikan keandalan jangka panjang, GPU Tiongkok telah membuka babak baru dalam perlombaan teknologi. Jika konsistensi ini terjaga, Tiongkok berpotensi merevisi peta kekuatan teknologi global—mendorong AS untuk berinovasi lebih cepat atau kehilangan pengaruhnya.
Kesimpulannya, terobosan GPU Tiongkok bukan sekadar pencapaian teknis, melainkan simbol pergeseran kekuatan yang mengisyaratkan era multipolar dalam dunia teknologi. Bagi Nvidia dan AS, inilah saatnya beradaptasi atau tertinggal.