×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Twitter uji fitur pelaporan tweet yang berpotensi hoaks

Oleh: Zhafira Chlistina - Rabu, 18 Agustus 2021 08:32

Twitter dilaporkan sedang menguji fitur pelaporan pada menu drop down tweet, dan dapat memilih kategori tweet, meliputi tweet politik dan kesehatan.

Twitter uji fitur pelaporan tweet yang berpotensi hoaks
Source: Pexels

Twitter sedang menguji fitur baru terkait pelaporan tweet yang berpotensi berisi informasi yang keliru. Seperti dilaporkan oleh The Verge (18/8), pengguna akan dapat melaporkan informasi yang salah melalui proses yang sama seperti pelaporan tweet pelecehan atau konten berbahaya.

Pada tombol drop down di bagian kanan atas setiap tweet, akan terdapat pilihan mengategorikan tweet, apakah bersifat politis, terkait kesehatan, atau lainnya. Kategori politik mencakup bentuk misinformasi pada hal yang lebih spesifik, seperti pemilihan umum. Sedangkan kategori kesehatan menyertakan opsi untuk menandai informasi hoaks terkait Covid-19. Tweet yang sudah ditandai ini nantinya akan ditinjau oleh Twitter. 

Sejauh ini, fitur itu baru diuji untuk pengguna di Amerika Serikat, Australia, dan Korea Selatan. Twitter mengatakan, pengujian ini akan dilakukan selama beberapa bulan, sebelum akhirnya memutuskan untuk diluncurkan secara global.

Pada Juli lalu, pemerintahan Biden mengambil langkah terhadap hoaks terkait varian baru Covid-19 yang menyebar. Presiden Biden mengatakan, platform media sosial seperti Facebook “membunuh orang” dengan berita hoaks tentang vaksin.

Kantor Ahli Bedah Umum AS juga menerbitkan sebuah laporan yang menguraikan cara-cara baru platform untuk dapat melawan informasi yang salah tentang kesehatan. Laporan tersebut menyerukan, "Konsekuensi yang jelas untuk akun yang berulang kali melanggar" aturan ini dan bagi perusahaan seperti Facebook dan Twitter untuk mendesain ulang algoritma mereka dalam "menghindari penguatan" informasi palsu. Mungkin dilatarbelakangi hal tersebut, Twitter menguji fitur ini.

×
back to top